Delapan Etika Gunakan Media Sosial

Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePin on PinterestShare on TumblrShare on Google+
Girl texting on a smart phone in a train station

Instagram, Facebook, dan Twitter adalah sebagian dari banyaknya media sosial yang sering jadi sarana berbagi minat sekaligus berfungsi sebagai album kehidupan pribadi di era digital. Meski media sosial adalah ranah pribadi pemiliknya, tapi tetap saja jejaring ini merupakan ruang publik. Ada aturan yang perlu diperhatikan dalam menggunakannya. Jangan sampai hubungan baik dengan sahabat retak karena unggahan Anda yang mengganggu, atau gagal dapatkan pekerjaan impian karena isi linimasa yang terlalu radikal. Apa saja yang perlu diperhatikan?

1. LUAPAN KELUHAN
Mungkin Anda masih ingat kasus seorang wanita yang duduk di bangku prioritas dan enggan memberikan kursinya pada seorang ibu hamil karena merasa ia juga mengalami keletihan yang sama. Luapan emosinya di akun medsos jadi viral dan nama serta wajahnya jadi bahan berita nasional. Saat Anda merasa kesal karena antrian di bank terlalu lama, lebih baik tarik napas dalam-dalam lalu buang perlahan untuk menenangkan diri sebelum mengungkapkan kemarahan di media sosial.

PERHATIKAN Di era digital, keluhan lewat media sosial terkadang lebih cepat mendapatkan tanggapan. Berbagai label ternama dan penyedia jasa berlomba-lomba memberikan pelayanan dengan baik dan cepat sebelum keluhan tersebut jadi viral. Jika Anda ingin melakukannya, gunakan bahasa yang sopan dan alamatkan keluhan ke pihak yang tepat. Kemukakan fakta dengan jelas dan hindari melebih-lebihkan. Kalau tak siap menghadapi risiko menerima tanggapan keras dari orang lain, lebih baik luapkan emosi Anda secara pribadi pada sahabat.

2. UMUMKAN STATUS
Berbeda dengan Facebook yang menyediakan pilihan status untuk penggunanya, banyak media sosial lain tidak memiliki fitur tersebut. Tapi sebagai tempat berbagi, sebagian besar orang tak segan berbagi kemesraan atau umumkan status baru di media sosial. Belum lama ini, berita soal Awkarin banyak dibicarakan ketika ia membuat video penuh tangis saat hubungannya berakhir.

PERHATIKAN Mengumumkan status di media sosial kadang dipilih sebagai cara memberi tahu kerabat tanpa disertai pertanyaan mendetail. Tapi melakukannya dengan berlebihan berpotensi menimbulkan rasa risih bahkan kritik dari followers atau teman di akun media sosial Anda. Coba cara Gwyneth Paltrow yang memilih cara elegan dengan menuliskan pengumuman perpisahan di situs gaya hidup miliknya.

3. SENANG SINDIR
Ketika merasa terganggu oleh perilaku rekan sekantor atau kerabat, kadang keenganan untuk menyampaikan secara langsung membuat pengguna media sosial memanfaatkan jejaring tersebut sebagai sarana ungkapkan isi hati. Padahal, bisa jadi bukan hanya orang yang dituju yang merasa tersindir, tapi rekan lainnya juga ikut tersinggung.

PERHATIKAN Bersiaplah menerima konsekuensi sindiran Anda di jejaring sosial. Bukan tidak mungkin hubungan malah jadi renggang karena Anda enggan mengungkapkannya secara langsung pada pihak yang bersangkutan. Anda tentu tak mau dianggap sebagai orang yang tidak dewasa, bukan? Perilaku tersebut juga bisa memicu timbulnya persepsi yang salah dari orang lain, seperti drama Kim Kardashian, Taylor Swift, dan Kanye West atau Justin Bieber dan Selena Gomez yang baru saja terjadi.

4. UNFOLLOW DAN UNSHARE
Jika merasa terganggu dengan hal-hal yang diunggah teman di media sosial, entah karena berbau SARA atau kurang beretika, Anda punya hak untuk unfollow atau unshare. Tapi perlu diperhatikan bahwa untuk beberapa orang, pertemanan kian nyata jika mereka juga terhubung di akun media sosial, hingga perbuatan unfollow dan unshare dianggap kasar.

PERHATIKAN Etika pertemanan di medsos sejatinya tidak jauh berbeda dengan dunia nyata. Jika ada yang mengganggu, komunikasikan saja. Dalam jejaring sosial, hal ini diperlukan untuk menghindari salah paham. Pada akhirnya, semua kembali pada penilaian Anda, orang-orang seperti apakah yang hendak dipertahankan di akun media sosial pribadi. Harap diingat, tidak berteman di media sosial bukan berarti Anda jadi bermusuhan secara personal.

5. BIJAK MENGUNGGAH
Baik informasi yang sifatnya pribadi seperti foto diri atau bersama sahabat, informasi umum seperti artikel atau isu yang sedang hangat juga sering dibagikan di media sosial. Ketika apa yang kita unggah mendapatkan respon positif, penggunaan jejaring sosial jadi makin menyenangkan dan adiktif. Namun ada baiknya Anda tidak terlalu sering mengunggah foto atau bahasan tertentu. Selain membosankan, hal tersebut mengganggu karena mendominasi linimasa.

PERHATIKAN Sebelum mengunggah, tanyakan ini pada diri sendiri: seberapa penting foto atau informasi ini untuk teman-teman? Adakah yang merasa terganggu dengan unggahan Anda? Dengan begitu, Anda jadi lebih bijak menyebarkan informasi di dunia maya. Sebab mengunggahnya berarti menyetujui materi tersebut jadi milik publik. Perhatikan juga berita yang Anda bagikan. Cek fakta perlu dilakukan agar Anda tidak dianggap menghasut atau menyebarkan berita palsu.

6. RANAH PRIBADI
Momen jenaka bersama sahabat sering terjadi saat bertukar pesan singkat. Hingga tak jarang screenshot pesan pribadi beredar di media sosial. Beberapa akun Instagram bahkan menggunakan percakapan pribadi tersebut sebagai konten utama, salah satunya @textfromyourex yang punya 1,9 juta followers.

PERHATIKAN Jika mengandung informasi menarik, hal tersebut bisa jadi berita yang bermanfaat. Tapi kalau menyinggung atau mempermalukan pihak tertentu, berita jenis ini malah bisa menimbulkan pertikaian atau lebih parahnya membuat Anda terjerat hukum atas pencemaran nama baik. Hati-hati, tidak semua orang nyaman percakapan pribadi mereka disebarluaskan. Hargai privasi orang lain.

7. KONTEN SENSITIF
Beberapa media sosial punya peraturan yang jelas dalam menyikapi unggahan yang tidak pantas, semisal mengandung pornografi, kekerasan, atau menyinggung pihak tertentu. Ketika Anda memutuskan untuk memamerkan tubuh indah hasil latihan di sasana kebugaran di media sosial, itu memang hak Anda. Tapi saat Kim Kardashian mengunggah foto tanpa busananya ke Instagram, selain dianggap sebagai gerakan yang mendukung feminisme, tak sedikit yang berkomentar hal itu merendahkan martabat wanita.

PERHATIKAN Setelah menanyakan pertanyaan di poin kelima dan akhirnya mengunggah sebuah gambar ke media sosial, ada hal lain yang harus diingat. Publik punya akses ke foto tersebut, dan bukan tidak mungkin akan disalahgunakan untuk hal yang tidak Anda sukai. Belum lagi jika mendapatkan komentar tidak menyenangkan dari orang lain. Jika sudah begitu, komentar dan persepsi orang lain ada di luar kendali Anda.

8. PERAN PROFESIONAL
Beberapa orang memisahkan akun media sosial mereka sesuai kegunaan: pribadi dan profesional. Kemudian, membatasinya dengan pengaturan privasi. Tapi ketika membagikan masalah kantor lewat media sosial pribadi, bukan tak mungkin hal tersebut akan sampai ke telinga rekan sekantor, bahkan bos Anda.

PERHATIKAN Banyak perusahaan besar menyaring penerimaan karyawan baru dengan mengecek media sosial calon pegawai untuk mengenal mereka dengan lebih baik. Apa yang Anda unggah selama ini bisa menentukan nasib karier Anda ke depannya, jadi cermati dengan lebih baik.

dok. ingimage
Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePin on PinterestShare on TumblrShare on Google+