Mengatasi Dilema Cinta di Usia Kritis

Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePin on PinterestShare on TumblrShare on Google+
dilema usia cinta

Saat menginjak usia tertentu, banyak wanita mengalami fase kritis dalam kehidupan. Dahi pun berkerut memikirkan karier, pertemanan, hingga relasi asmara. “Setelah kehidupan kampus berakhir, orang kemudian berhadapan dengan pertanyaan tentang tujuan hidup. Sebab ada beragam jalan yang harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai,” kata Ajeng Raviando, psikolog lulusan Universitas Indonesia. Tidak perlu stres, JOY sudah wakilkan Anda berbincang dengan ahli psikologi relasi untuk beri trik mengatasi dilema cinta di usia kritis.

USIA 22: FASE BARU, DUNIA BARU
Di Inggris, psikolog dari NHS menemukan bahwa usia 21 atau setelah lulus perguruan tinggi membawa banyak perubahan untuk urusan percintaan. Sebelum mencapai umur tersebut, pilihan wanita biasanya terbatas dengan pria yang memiliki kesamaan usia dan latar belakang, sedangkan seusai menamatkan pendidikan tinggi, opsinya lebih luas dan beragam.

Annisa (27) pun mengalaminya, “Beberapa bulan setelah lulus, saya dan pacar kala itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan karena tidak lagi menemukan kecocokan,” ungkap wanita yang berprofesi sebagai jurnalis ini. Saat itu, ia mulai merasa harus berpikir tentang mengejar sesuatu dalam hidup. “Dan tujuan utama waktu itu bukanlah pernikahan. Lalu, saya pindah ke kota lain dan bertemu banyak orang baru plus pekerjaan baru. Segalanya jadi semakin jelas, hingga hubungan saya dengannya terasa membebani karena kami punya tujuan yang berbeda. Saya jadi merasa harus bebas untuk bisa mengembangkan karier,” pungkasnya.

Komunikasikan mimpi masing-masing untuk mengetahui apakah Anda dan pasangan merasa nyaman dengan harapan satu sama lain

Ajeng Raviando pun mengamati banyaknya kejadian seperti itu. “Harapan yang ada di dalam diri ikut berubah, menyesuaikan dengan bervariasinya pengalaman yang dirasakan. Melihat kenyataan baru bisa membuat Anda dan pasangan berjalan di rel yang berlainan.”

Menghadapi hal tersebut, tak ada salahnya mengomunikasikan soal masa depan dengan pasangan. “Ada baiknya jika Anda dan pasangan saling mengetahui mengenai mimpi masing-masing lebih dini,” kata Ajeng lagi. Selanjutnya, jika Anda merasa nyaman dengan harapan satu sama lain, masa depan hubungan akan bisa diperjuangkan bersama-sama.

USIA 25: KONSENTRASI KARIER
Waktu 24 jam dalam sehari kadang dirasa tak cukup untuk membagi perhatian pada hal krusial seperti: karier, cinta, dan keluarga. Nyatanya, menentukan prioritas dan menepatinya memang bukan hal yang mudah. “Membagi konsentrasi pada dua hal memang sulit, apalagi jika Anda sudah mulai menikmati salah satunya. Bisa berat sebelah. Perihal menyeimbangkan waktu akan jadi hal yang menantang,” papar psikolog relasi yang mengakui belum adanya aturan baku mengenai work-life balance.

Tentukan prioritas dan bikin kesepakatan yang membuat masing-masing pihak nyaman untuk menjaga hubungan

Mengetahui apa yang menjadi tujuan Anda bekerja bisa jadi salah satu cara untuk memperbaiki hal itu. Ajeng melanjutkan, “Sadari apa yang menjadi tujuan Anda dalam bekerja. Kerja buat apa, sih? Dan untuk siapa? Dari situ, Anda tahu berapa porsi masing-masing prioritas. Jika masih merasa hubungan itu layak diperjuangkan, seharusnya ada waktu yang bisa diluangkan untuk pasangan.”

Beberapa pasangan punya aturan tersendiri mengenai hubungan mereka, disadari atau tidak. Seiring berjalannya waktu, pasangan sebaiknya menyediakan waktu untuk menilik hal tersebut. “Ketika sibuk, langkah yang bisa dilakukan adalah membicarakan arti hubungan antara Anda dan pasangan. Jika sama-sama sibuk mengejar mimpi masing-masing lewat pekerjaan, bikin aturan atau kesepakatan baru untuk menjaga hubungan,” saran Ajeng.

USIA 28: TEKANAN DARI SEMUA PENJURU
Ajeng memaparkan kalau dinamika semua orang berbeda. “Ada yang ingin berkonsentrasi di karier, ada yang merasa bahagia lewat pernikahan. Yang satu juga tidak lebih benar atau lebih baik daripada opsi lainnya. Tapi harus diakui jika ada ekspektasi tertentu dalam setiap jenjang usia seseorang,” terang Ajeng.

Lakukan kegiatan dan bergabung dengan komunitas baru agar bisa jalin pertemanan yang sehat dalam menghadapi usia ini

Di usia ini, apalagi jika Anda tinggal di Indonesia, seorang wanita seperti dihadapkan pada tenggat waktu. Tekanan semakin terasa ketika mereka yang sudah melanjutkan ke jenjang lebih serius memaksa Anda untuk mengikuti langkah mereka. “Peer pressure itu kerap terjadi. Alasannya, selalu ada keinginan untuk menjadikan semua anggotanya sama. Sebab kesamaan itulah yang mempersatukan mereka,” ungkap Ajeng.

Kalau sudah begitu, bagaimana menanggapi teman-teman yang menyodorkan daftar pria untuk Anda pilih? “Jika mau, buka diri dan berkenalan dengan salah satu dari mereka bukanlah ide yang buruk. Anggap saja menambah teman. Siapa tahu Anda menemukan teman seperjuangan dari daftar tersebut! Dari situ, Anda bisa menjalin pertemanan yang bisa dijadikan sebagai support system baru dalam menghadapi usia ini. Tapi jangan merasa terbebani. Bilang ‘tidak’ jika Anda merasa tidak nyaman atau belum siap berkomitmen. Tapi kembangkan potensi Anda lewat kegiatan atau komunitas baru.”

USIA 30: DIKEJAR TENGGAT WAKTU
Hasil survei yang dilakukan oleh situs asal Inggirs gumtree.com menemukan bahwa 86 persen dari 1.100 responden mengakui mereka merasa ada di bawah tekanan untuk bisa berhasil sebelum menginjak umur 30 tahun. Tekanan tersebut paling terasa dalam hal asmara, keuangan, dan pekerjaan. 32 persen dari mereka bahkan merasa ditekan untuk menikah dan punya anak di usia tersebut.

Saatnya mendefinisikan kembali arti bahagia dalam hidup Anda dan bikin tatanan baru yang membuat Anda lebih nyaman

Waktunya refleksi pada diri sendiri dan pahami diri lebih dalam untuk tahu tujuan yang ingin dicapai ke depannya. “Periksa kembali apakah target-target itu benar-benar tercapai. Jika tidak, saatnya mendefinisikan kembali arti bahagia dalam hidup Anda dan bikin tatanan baru yang lebih nyaman,” tambah wanita berambut panjang itu.

Satu hal yang perlu dicermati adalah untuk tetap bisa menjadi diri sendiri dan tidak terbawa arus. “Tidak perlu terburu-buru jika memang tak ada alasan signifikan untuk melakukannya. Rasanya, tidak ada urgensi menikah jika hanya demi status,” Ajeng menjelaskan. Pandangan tentang cinta pun mau tak mau berubah. “Bagi lajang, makin banyak pertimbangan untuk memilih pendamping hidup. Ada standar tersendiri yang dibuat karena pengalaman membentuknya jadi demikian,” tuturnya.

USIA 35: BERKELUARGA ATAU MELAJANG?
Banyak pasangan yang mengeluhkan jika asmara dan seks tidak lagi menarik setelah lama menikah. “Biasanya orangtua memang tidak punya waktu untuk hubungan dan diri mereka hingga usia anak mencapai lima tahun,” ungkap Ajeng. Tapi itu bukan alasan mengorbankan hubungan Anda dan pasangan. Selalu ada cara untuk mengembalikan percikan dalam kehidupan berumah tangga. “Vakansi, kencan, atau sekadar mengobrol berdua tanpa terganggu biasanya ampuh untuk hadirkan keseruan dalam hubungan pasangan yang telah cukup lama menikah. Jadilah pasangan egois di waktu-waktu tertentu. Justru itu salah satu tanda Anda menghargai hubungan dan berusaha keras agar ikatan yang telah disepakati bersama itu bisa langgeng,” jelasnya lagi.

Anda sudah matang di usia ini, tidak ada yang bisa melarang, apalagi jika keputusan itu bikin Anda bahagia

Di lain pihak, si lajang biasanya makin yakin dengan pilihan hidupnya: menunda atau tidak menikah. Jika sudah yakin benar dengan pilihan melajang, tidak ada yang bisa memaksakan kehendak pada Anda. Apalagi jika justru itu yang bikin merasa bahagia seutuhnya. “Mengapa tidak? Seseorang makin matang di tahap ini. Jika ada yang mempertanyakan, jawab dengan baik, bukan dengan ketus. Lalu beri alasan jelas yang melatari keputusan tersebut” pungkasnya.

dok. ingimage

Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePin on PinterestShare on TumblrShare on Google+